Tools

Kalkulator Reksadana Obligasi (Proyeksi)

Reksadana obligasi (pendapatan tetap) historisnya sekitar 6% sampai 9% per tahun, lebih stabil dari saham tapi tetap bisa fluktuatif.
Isi setoran dan jangka waktu dengan benar.
Perkiraan nilai akhir
—
  • Total setoran—
  • Total imbal hasil—
  • Jangka waktu—
  • Nilai akhir (bebas pajak)—
Proyeksi ini hanya perkiraan dengan asumsi imbal hasil rata sepanjang periode. Nyatanya nilai reksadana obligasi bisa turun, terutama saat suku bunga naik, dan imbal hasil masa lalu bukan jaminan hasil masa depan. Keuntungan reksadana bebas pajak penghasilan.

Alat di atas memproyeksikan nilai investasi reksadana obligasi dari setoran awal, setoran rutin bulanan, imbal hasil, dan jangka waktu. Isi angkanya, lalu klik Hitung Proyeksi.

Ringkasan:

  • Reksadana obligasi (pendapatan tetap) berisi surat utang, jadi lebih stabil dari saham tapi imbal hasilnya lebih moderat.
  • Cocok untuk tujuan jangka menengah, sekitar 1 sampai 3 tahun ke atas.
  • Proyeksi memakai rumus nilai masa depan, dan keuntungan reksadana bebas pajak penghasilan.

Mau menumbuhkan dana untuk tujuan beberapa tahun ke depan tapi tidak mau seagresif reksadana saham? Reksadana obligasi bisa jadi jalan tengah: imbal hasilnya lebih tinggi dari deposito, dengan risiko yang lebih kalem dibanding saham. Biar ada gambaran, alat ini menghitung perkiraan nilai investasimu.

Cara Pakai Alat di Atas

  • Isi Setoran awal bila kamu memulai dengan sejumlah dana, boleh dikosongkan.
  • Isi Setoran per bulan untuk investasi rutin.
  • Isi Imbal hasil per tahun (default 8%) dan Jangka waktu dalam tahun.
  • Klik Hitung Proyeksi untuk melihat nilai akhir, total setoran, dan total imbal hasil.

Rumus Proyeksi

r = imbal hasil per tahun / 12
FV setoran awal = awal x (1+r)^n
FV setoran rutin = rutin x ((1+r)^n - 1) / r
Nilai akhir = FV setoran awal + FV setoran rutin
n = jumlah bulan

Contoh Perhitungan

Setoran awal Rp1.000.000, rutin Rp500.000/bulan, imbal hasil 8%, selama 3 tahun (36 bulan). Total setoran = 1.000.000 + 500.000 x 36 = Rp19.000.000, dan perkiraan nilai akhirnya sekitar Rp21.500.000, sehingga imbal hasilnya kira-kira Rp2,5 juta dan bebas pajak. Ingat, angka ini cuma perkiraan.

Reksadana Obligasi vs Jenis Lain

Reksadana obligasi (sering disebut reksadana pendapatan tetap) menempatkan mayoritas dana pada surat utang seperti obligasi negara dan korporasi. Imbal hasilnya lebih tinggi dari reksadana pasar uang dan lebih stabil dari reksadana saham, jadi pas untuk tujuan jangka menengah. Risikonya tetap ada, terutama saat suku bunga naik yang bisa menekan harga obligasi. Kalau tujuanmu sangat pendek atau butuh dana yang sewaktu-waktu cair, pasar uang lebih aman; kalau sangat panjang dan tahan gejolak, saham berpotensi lebih tinggi.

Kalkulator Terkait

Bandingkan dengan jenis lain lewat kalkulator reksadana, kalkulator reksadana saham, atau kalkulator reksadana pasar uang.

Sering Ditanyakan

Apakah reksadana obligasi aman?

Risikonya menengah, lebih rendah dari saham tapi lebih tinggi dari pasar uang. Nilainya bisa turun, terutama ketika suku bunga acuan naik sehingga harga obligasi tertekan. Untuk jangka menengah, gejolaknya biasanya masih terkendali. Pilih produk dari manajer investasi yang terdaftar dan diawasi OJK.

Berapa return reksadana obligasi?

Historisnya sekitar 6% sampai 9% per tahun, meski bisa berbeda tergantung kondisi suku bunga dan isi portofolionya. Angka ini perkiraan kasar, bukan jaminan. Pakai sebagai patokan, lalu sesuaikan dengan data produk yang kamu pilih.

Apakah imbal hasilnya kena pajak?

Keuntungan reksadana bukan objek pajak penghasilan bagi investor, jadi imbal hasil yang kamu terima tidak dipotong pajak lagi, walaupun tetap perlu dilaporkan di SPT sebagai harta. Ini berbeda dari bunga deposito yang dipotong pajak final 20%.


Nah, itu dia cara memproyeksikan hasil investasi reksadana obligasi. Sebagai jalan tengah antara aman dan bertumbuh, ia cocok untuk tujuan jangka menengah. Selamat berinvestasi, semoga bermanfaat 🙂